Featured Post (TOP)

Penerbit Asrifa berkomitmen membantu penulis untuk menerbitkan bukunya secara self publishing dengan biaya terjangkau, berkualitas dan terpercaya. Publish Your Book, Now! Penerbit Asrifa siap membantumu.

Tuesday, 10 July 2018

Review Jaman Now



Judul Buku : Review Jaman Now
Penulis : Arya Pratama Putra
Harga Buku : Rp. 68.000 (Belum termasuk ongkir)

Pemesanan secara print on demand via sms/wa 085624070744
=====

Nonton itu mengasyikkan. Namun bukan berarti kita dilarang berpikir saat menonton. Malahan, mengatakan kita harus menutup otak supaya bisa terhibur selagi menonton, film apapun, sungguh adalah suatu perkataan yang tanpa alasan.

Aku berangkat dari seorang penonton. Penonton Smackdown! Serius, sebelum tahun 2010 aku belum peduli-peduli banget sama yang namanya film. Film ‘beneran’ yang kutonton saat itu palingan cuma gak jauh-jauh dari sebangsa horor dan slasher. Dan itu aku menganggap mereka baguuss banget. Akting pemainnya yang ketakutan setengah mati dan mereka melakukan hal bodoh buatku adalah hiburan yang luar biasa, karena pembandingnya cuma akting pemain smekdon. Dan kemudian, tertontonlah film Mulholland Drive. Seketika aku terkesima. Film ini berhasil membuatku tertarik mencari tahu lebih banyak. Setelah nonton ini, aku sadar, bahwa film bisa menjadi sesuatu yang lebih dari sebuah tontonan. Film adalah sebuah perjalanan karakter. Aku pun lalu tertarik untuk baca-baca lebih jauh soal pembuatan film. Aku mulai menonton film drama. Film keluarga. Film anak-anak. Dan film Indonesia.

Karena film adalah sebuah perjalanan personal itulah makanya setiap dari kita berhak dan mestinya mampu untuk menilai film, asalkan otaknya enggak ditutup. Menjadi kritikus film sesungguhnya syaratnya hanya satu; menonton film. Jadi, kita enggak perlu tuh harus jadi sutradara dulu, atau jadi tukang masak dulu. Heh? Memang, jika kita mengerti lebih banyak tentang film, tentu kita bisa menilai dari aspek yang lebih kaya. Namun jangan jadikan ketidaktahuan itu hambatan. Tulis saja apa yang terpikirkan dan terasa saat menonton. Apa yang menurut kita bisa membuat filmnya lebih baik. Jadilah sutradara tandingan. Toh kompetisi itu bagus. Lagipula, tidakkah setiap kita menonton film karena ingin film menjadi terus lebih baik?

Bekal awalku membuat blog mydirtsheet.com selain menonton adalah membaca dan menulis. Jadi ya aku lakukan apa yang aku bisa. Aku belajar serabutan sana sini. Sama Mas Ichwan Persada, sama Pak Agus Safari, sama Mas Ade Irwansyah, sama Mas Hilman Hariwijaya juga pernah.. Pokoknya ada yang buka kelas, aku bela-belain ikut. Aku tahu aku punya suara, aku tahu ingin menulis tentang apa, sekarang hanya tinggal nentukan konsep blognya. Ide namanya sih dari salah satu segmen talkshow di WWE; The Dirt Sheet yang isinya video singkat dua superstar ngejelek-jelekin apa yang terjadi seputar WWE kala itu. Aku mengadaptasi gimmick ini dengan sedikit menyampurkannya dengan filosofi sendiri. Pada tahu dong, J.K. Rowling menulis draft awal Harry Potter dari kertas-kertas dan napkin di meja makan? Nah, mydirtsheet tadinya mau dibikin serupa demikian, bahwa tulisan di blog ini adalah gagasan-gagasan serabutan yang ditulis di kertas buram. Aku tidak memikirkan apakah nanti ada yang baca, apalagi buat dikasih piala. Atau apakah nanti pembuat film ada yang marah, ataupun apa yang kutulis malah membingungkan orang sehingga akan membuatku tampak bodoh.