Featured Post (TOP)

Penerbit Asrifa berkomitmen membantu penulis untuk menerbitkan bukunya secara self publishing dengan biaya terjangkau, berkualitas dan terpercaya. Publish Your Book, Now! Penerbit Asrifa siap membantumu.

Sunday, 2 February 2014

Namaku Annisa


Telah Terbit!

Judul Buku : Namaku Annisa (Kumcer)
Penullis : Wien, sakura (Erma Yanti), dkk.
Terbit : Februari 2014
ISBN : 978-602-14760-7-9
Ukuran Buku : 14 x 21 cm
Jumlah Hal : 195 Halaman

Harga Rp. 49.000

Promo Pre-Order ( 3- 7 Februari, Cetak tgl 8 Februari, Pengiriman Buku Tgl 16 Februari 2014)

Harga Promo
Beli 1 buku : Rp. 58.000 ( Sudah termasuk Ongkos Kirim)
Beli 2 buku : Rp. 110.000 (Sudah termasuk ongkos kirim)
Beli 3 buku : Rp. 165.000 (Sudah termasuk ongkos kirim)

(Harga khusus untuk semua tim penulis 1 buku @55.000 sudah termasuk ongkos kirim)

Pemesanan : Via Inbox Fb. Penerbit Asrifa
Via SMS 085624070744
Via BBM 75AC2BB9
WA 085624070744

Format Pemesanan : Nama-alamat lengkap-Judul Buku-Jumlah buku

Info Tentang Buku :

Buku ini merupakan kumpulan cerpen dari "Annisa Writer's" hasil seleksi pada event Annisa. Berikut kutipan dari beberapa cerpen dalam buku ini;

Namaku Annisa

Hari ini aku kesel sekali. Umi dan abi marah besar. Dan penyebabnya? Hanya gara-gara foto. Yah, foto tak lebih. Padahal wajar kan kalau kita pampang foto di social media. Sudah lumrah. Seorang gadis abg sepertiku, berduaan seperti itu dengan si “Dia”. Tak masalah bukan.

Huh, dasar orangtuaku kolot. Entah sudah berapa kali aku diceramahi, diperintah, agar aku tak lagi berpacaran seperti itu. Katanya itu tidak ada dalam ajaran Islam, banyak mudharatnya. Apa coba?

Ah, aku tak mengerti, kamu juga bukan. Kita ini sudah besar, tahu mana yang baik mana yang buruk. Bisa memilih. Seharusnya jangan diperlakukan seperti anak kecil. Harus ini, tak boleh itu. Apa yang orang tua perintahkan, harus mau. Berabe benar bukan hidup seperti ini. Seharusnya kita bebas menentukan hidup kita sendiri. Menyebalkan.
Aku benar-benar tak tahan sama umi dan abi yang terlalu “care”. Sikap mencampuri hidupku, sok tahu, sok bijaksanalah. Atau apalah itu. Benar-benar tak penting sama sekali. Sekalipun umi dan abi sudah “makan garam” bukan berarti berhak berlaku sok pandai dalam mengatur hidupku.

Setelah Senja

Senja dan ceria. Rasanya aku tak punya kata lain untuk menggantikanya. Tanah lapang berumput itu penuh oleh tapak kaki kita. Tapak kanak-kanak tanpa dosa.

Tentang kebiasaanmu membuat hal baru dalam permainan kita. Rasanya otakmu tak pernah buntu oleh ide-ide cemerlang. Saat teman-teman merasa jenuh, kau memecah kekakuan dengan layang-layang buatanmu. Tak ada yang salah memang, karena layang-layang itupun terbuat dari kertas. Tapi yang membuat aneh adalah lukisan wajahku yang menempel di sana. Hei, kau pikir aku badut, sponge bob, atau ikan yang biasanya menjadi model pada kertas mainan itu. Karena ulahmu itu, sontak anak-anak terbahak. Mereka punya bahan, yaitu namaku untuk dibuli. Kau memang pandai melukis, dan aku tak menyangsikan itu. Yang membuatku heran kenapa aku? Keheranan itu bertambah ketika kau tersipu ketika nama kita menjadi bulan-bulanan.
"Oh may God!"
bisikku tak percaya.

Diary Jilbab

“Ma, pakaikan jilbab dong.” Teriakku memanggil Mama yang ada di ruang tamu, sambil tanganku memegang jilbab yang bertengger di kepala agar tidak lari kemana-mana.

“Sudah Tsanawiyah masih tidak bisa pakai jilbab sendiri. Masa Mama harus pakaikan kamu jilbab sampai 3 tahun.” Mama nyerocos di hadapanku, tangannya lihai menyematkan peniti kuning kecil di jilbab almamater putihku.

Aku hanya diam mendengarkan sambil berpikir. Selama ini memang aku tidak pernah memakai jilbab segi empat, sejak di TPA alias Taman Pendidikan Al-Qur’an aku hanya memakai bergo atau kerudung langsung pakai yang ada talinya.
 —